oleh Abdul Wachid B.S. [1]
Pengantar: Titik Temu Membaca dan Kehidupan
Membaca ensiklopedi sastra Nusantara bukanlah sekadar menatap halaman berisi nama, tanggal, atau judul karya. Ia adalah ambang, sebuah pintu yang menandai awal perjalanan batin yang luas dan tak terduga. Di setiap entri, ada dunia yang menunggu untuk disentuh: tokoh, bentuk karya, atau jejak tradisi yang selama ini hidup di balik cerita, pantun, hikayat, atau tembang. Fakta-fakta itu sendiri hanyalah titik awal; nyawa teks baru muncul ketika pembaca hadir dengan kesadaran penuh: mata yang melihat, telinga yang mendengar gema, hati yang siap menimbang, dan pikiran yang bertanya.
Di titik pertemuan antara teks dan pembaca itulah kehidupan sastra muncul. Membaca menjadi tindakan, bukan sekadar konsumsi. Entah itu pertanyaan batin yang lahir dari nama seorang sastrawan, ritme larik yang menuntun ke makna etis, atau kisah yang meneguhkan nilai-nilai manusia, semua menuntun pembaca untuk hadir, ikut bergerak, dan membiarkan teks menggerakkan pengalaman batin mereka. Pembaca yang sadar tidak berhenti pada informasi; ia menafsir, menimbang, bahkan menindaklanjuti dengan laku kreatif yang menautkan teks dengan realitas hidupnya sendiri.
Ensiklopedi menjadi panggung di mana teks dan pembaca bertemu, tetapi ia bukan aktor utama. Pertemuan itu membuka kemungkinan: resonansi batin, dialog yang membangun, atau percikan kreativitas yang menuntun ke makna baru. Dari sini, perjalanan membaca berubah menjadi perjalanan hidup; teks menjadi sahabat, tradisi menjadi pemandu, dan pembaca menjadi penjelajah yang menyingkap lapisan demi lapisan makna. Di sinilah titik awal klimaks esai ini: membaca bukan sekadar memahami, tetapi merasakan dan membiarkan sastra Nusantara berbicara, menuntun, dan menembus pengalaman kita sehari-hari.
Laku Kreatif: Resonansi Teks dalam Tindakan
Membaca entri ensiklopedi dengan kesadaran penuh membuka ruang bagi kreativitas yang tidak selalu literal, tetapi hidup dan bernapas bersama teks. Kreativitas di sini bukan sekadar menulis ulang atau mencipta dari nol, melainkan respons batin yang muncul ketika pembaca membiarkan gema tradisi dan makna menembus pengalaman pribadinya. Setiap entri, sekecil apa pun, dapat menjadi percikan: pertanyaan yang terus bergelora, imaji yang menuntun, atau refleksi estetis yang menyambungkan masa lalu dengan langkah kita hari ini.
Bayangkan seorang pembaca menelusuri entri tentang pantun Jawa. Definisi dan pola larik hanyalah permulaan. Dari situ, batin pembaca mulai bergerak: ia menulis pantun baru yang menyambungkan kehidupan kontemporer dengan pola tradisi, atau menafsir simbol-simbol yang tersembunyi dalam pantun lama untuk menyingkap nilai etika dan sosial masyarakat. Pembaca lain mungkin menemukan inspirasi untuk mengadaptasi kisah lisan menjadi prosa modern, menggubah tembang menjadi musik kontemporer, atau merancang pertunjukan visual yang menautkan imaji klasik dan pengalaman masa kini. Kreativitas ini muncul bukan karena teks berubah, tetapi karena pembaca menanggapi teks dengan hadir sepenuhnya, mata, telinga, dan hati.
Laku kreatif juga bisa lebih halus: berupa pertanyaan batin yang menggantung, penafsiran yang berlapis, atau catatan pribadi yang menautkan teks klasik dengan refleksi kontemporer. Seorang pembaca membaca entri tentang sastrawan tradisional dan bertanya: “Bagaimana mereka meneguhkan nilai melalui karya mereka?” atau “Apakah prinsip ini masih relevan dalam hidup modern kita?” Dari pertanyaan itu lahirlah bentuk kreatif: puisi baru, esai reflektif, atau narasi yang menautkan pengalaman batin pembaca dengan tradisi yang ia pelajari.
Inilah inti pembacaan yang sadar: teks bukan sekadar bahan mentah, melainkan pemantik. Resonansi yang muncul adalah hidup, bergerak, dan meluas. Kreativitas adalah dialog batin yang mengalir antara pembaca dan teks, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan. Setiap entri menjadi jendela (bukan dinding) yang membiarkan cahaya tradisi masuk ke ruang batin, menumbuhkan tindakan yang nyata dan refleksi yang mendalam.
Dialog dengan Teks dan Tradisi
Membaca ensiklopedi bukan sekadar menatap huruf dan angka; ia membuka ruang dialog yang halus namun hidup: dengan teks itu sendiri, tradisi yang melahirkannya, dan bahkan pembaca lain yang ikut hadir dalam perjalanan batin yang sama. Setiap entri menjadi titik temu: antara nama tokoh dan kisahnya, antara bentuk karya dan ritme budaya yang membentuknya, antara sejarah sastra dan pengalaman batin kita. Ensiklopedi berfungsi sebagai jendela, bukan penjara; ia memberi arah, tetapi langkah batin tetap bebas menapaki setiap peluang makna.
Ambil contoh entri tentang Tembang Macapat. Ringkasan ensiklopedi mungkin hanya menjelaskan pola larik, nada, dan fungsinya. Namun, bagi pembaca yang hadir dengan kesadaran, pertanyaan batin muncul: mengapa setiap tembang memiliki irama tertentu? Bagaimana pengulangan suku kata dan nada membentuk etika dan kesadaran estetis masyarakat Jawa? Dari pertanyaan itu lahirlah perenungan: bayangan suara di halaman kampung, ketekunan guru dan murid, nilai kesabaran, ketelitian, atau pengabdian yang tersirat dalam tradisi. Ensiklopedi membuka pintu, tetapi pertemuan batin terjadi ketika pembaca hadir, mendengar gema itu, dan membiarkan makna meresap.
Dialog juga terjadi antar-pembaca. Misalnya, dalam diskusi komunitas sastra, satu peserta membaca entri tentang Hikayat Hang Tuah, sementara yang lain membandingkannya dengan cerita rakyat lokal. Pertukaran ini menimbulkan percakapan yang lembut namun kritis: apakah kesetiaan Hang Tuah sejati atau dipengaruhi konteks politik zamannya? Dari diskusi itu lahirlah interpretasi baru, refleksi pribadi, bahkan inspirasi untuk menulis cerita atau esai kreatif yang menautkan kisah klasik dengan realitas kontemporer. Ensiklopedi berperan sebagai titik temu: pemantik percakapan, bukan otoritas final.
Dalam dialog ini, pembaca belajar bahwa teks tidak hanya tercatat untuk dikenang, tetapi untuk disentuh, dirasakan, dan diresapi. Di balik ringkasan singkat, ada gema tradisi yang menunggu disentuh, riak makna yang menuntut perhatian, dan kesempatan menimbang ulang warisan budaya. Dialog dengan teks dan tradisi menegaskan: membaca adalah hadir dalam pertemuan batin yang terus bergerak, memberi ruang bagi refleksi, kreativitas, dan pemahaman kontemporer yang lahir dari kesadaran penuh.
Relevansi Kontemporer: Tradisi yang Hidup
Membaca ensiklopedi sastra Nusantara tidak berhenti pada masa lalu; setiap entri, sekecil apa pun, menyimpan benih yang bisa beresonansi dengan pengalaman dan isu hari ini. Tradisi klasik bukan catatan mati yang diam di rak; ia hidup dalam cara kita menafsirkan, menempatkan, dan memaknainya di dunia kontemporer. Membaca dengan kesadaran memungkinkan tradisi itu berbicara kembali: menawarkan pertanyaan, jawaban, atau peringatan yang relevan bagi kehidupan modern.
Misalnya, entri tentang pantun Melayu tidak hanya menjelaskan struktur rima dan aturan sajian, tetapi juga memuat cara pandang sosial: kehalusan tutur, kehormatan dalam komunikasi, kepedulian terhadap sesama. Pembaca masa kini dapat menarik pelajaran: bagaimana membangun komunikasi yang sopan di dunia digital yang serba cepat; bagaimana menjaga etika berinteraksi di media sosial; bagaimana kesabaran, empati, dan kehalusan hati tetap relevan dalam kehidupan profesional maupun personal. Pantun menjadi jembatan dari halaman lama ke layar modern, dari tradisi lisan ke praktik nyata.
Contoh lain, Serat Centhini, yang sarat simbol dan ritual kehidupan Jawa. Ringkasannya mungkin hanya menyebutkan kisah dan tokoh, tetapi pembaca yang teliti dapat menelusuri pesan tentang harmoni manusia dengan alam, keseimbangan spiritual, dan pencarian diri. Di dunia modern, pesan itu diterjemahkan menjadi panggilan menjaga lingkungan, menyeimbangkan hidup kerja dan batin, atau memahami spiritualitas di tengah urbanisasi dan teknologi. Ensiklopedi menjadi titik awal untuk menempatkan tradisi dalam konteks relevansi nyata, bukan sekadar nostalgia, tetapi pedoman reflektif yang hidup.
Relevansi kontemporer juga muncul ketika kisah lama terkait isu sosial atau politik masa kini. Misalnya, cerita rakyat yang menekankan kepemimpinan adil atau perlindungan kelompok lemah bisa menjadi lensa untuk menafsirkan dinamika kekuasaan, keadilan sosial, atau tantangan kebijakan publik. Tradisi yang tampak klasik, jika dibaca dengan kesadaran, menuntun pembaca melihat pola, mengambil hikmah, dan menyesuaikan nilai-nilai tanpa kehilangan akar budaya.
Dalam perspektif ini, pembacaan ensiklopedi menjadi tindakan kreatif sekaligus reflektif. Tidak sekadar menulis ulang fakta, tetapi menghidupkan teks dalam pengalaman kontemporer. Tradisi tidak mati; ia tetap berbicara, menantang, dan memberi ruang bagi tindakan serta refleksi modern. Ensiklopedi berfungsi sebagai jembatan: menghubungkan masa lalu dengan masa kini, teks dengan tindakan, dan tradisi dengan kehidupan yang terus bergerak. Membaca tradisi klasik dengan kesadaran semacam ini menjadikan pembaca bukan penonton pasif, tetapi peziarah yang menemukan relevansi, inspirasi, dan arah dalam perjalanan hidup modernnya.
Penutup Klimaks: Membaca sebagai Perjalanan dan Tanggung Jawab
Membaca ensiklopedi bukanlah titik akhir; ia adalah awal dari perjalanan batin yang lebih panjang. Setiap entri membuka pintu, tetapi langkah pembaca-lah yang menentukan seberapa jauh makna itu menembus pengalaman hidup. Di sinilah klimaks pembacaan terjadi: bukan sekadar menyerap informasi, tetapi menanggapi teks dengan kesadaran penuh, melalui kreativitas, dialog, dan upaya menempatkan tradisi dalam konteks kontemporer.
Pembaca menjadi agen aktif. Ia menulis, menafsir, menanyakan, membandingkan, atau memindahkan inspirasi teks ke dalam tindakan nyata. Ia berdialog dengan suara lama yang menyeberang waktu, merasakan denyut makna yang hidup dalam kehidupan sekarang. Dengan demikian, teks tidak hanya tercatat di buku; ia bergema, hidup kembali, dan menjadi bagian dari laku kebudayaan yang terus berkembang. Setiap kata, tiap nama tokoh, dan setiap pola cerita menjadi alat untuk menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar catatan sejarah.
Membaca, dalam perspektif ini, adalah tanggung jawab. Ia menuntut kesabaran, kepekaan, dan kesiapan untuk membiarkan makna bekerja secara perlahan dalam batin. Pembaca tidak sekadar konsumen informasi, tetapi peziarah yang hadir dengan kerendahan hati, mengizinkan teks dan tradisi mengajarinya langkah demi langkah. Setiap entri menjadi undangan untuk memperluas pengalaman, mempertajam kesadaran, dan menjaga agar warisan sastra Nusantara tetap hidup, relevan, dan berbicara pada zaman yang terus bergerak.
Dengan kesadaran semacam ini, membaca ensiklopedi menjadi perjalanan batin yang terus berlangsung: membuka mata, menggerakkan hati, dan menempatkan pembaca dalam peran yang bertanggung jawab; tidak hanya terhadap teks, tetapi juga terhadap tradisi dan diri sendiri. Ia adalah perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai, karena makna selalu menunggu untuk ditangkap, dihayati, dan dibawa ke dalam kehidupan nyata. Klimaks esai ini menegaskan: membaca adalah tindakan hidup, sebuah laku batin yang menumbuhkan resonansi, kreativitas, dan pemahaman yang menyeberangi waktu.***
Tentang Penulis

[1] Abdul Wachid B.S. adalah penyair, Ketua Sekolah Kepenulisan Sastra Pedaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Buku esainya Sastra Pencerahan (Basabasi, 2019) menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 2021.

