Membaca Entri, Membaca Tradisi: Catatan tentang Kesadaran Membaca Ensiklopedi Sastra Nusantara

oleh Abdul Wachid B.S. [1]

 

 

Pengantar: Membaca sebagai Sikap, Bukan Sekadar Aktivitas

Membaca, sejak awal, tidak pernah sepenuhnya netral. Ia bukan sekadar kegiatan mata yang bergerak dari kiri ke kanan, dari baris ke baris, lalu selesai. Di dalam setiap tindakan membaca, selalu ada sikap batin yang menyertai: niat yang dibawa pembaca, kesabaran atau ketergesaan yang ia pilih, serta horison pengalaman yang diam-diam ikut menentukan arah pemaknaan. Karena itu, membaca tidak pernah hanya berurusan dengan teks, melainkan juga dengan diri pembaca itu sendiri: dengan kesiapan, kepekaan, dan kerendahan hatinya di hadapan makna.

Ensiklopedi, dalam praktik sehari-hari, kerap didekati sebagai rujukan cepat. Ia dibuka untuk mencari definisi, tanggal, nama, atau keterangan ringkas yang dianggap cukup untuk menjawab kebutuhan sesaat. Cara membaca semacam ini sah dan fungsional dalam banyak bidang pengetahuan. Namun ketika objek yang dibaca adalah sastra, terlebih sastra Nusantara, logika semacam itu sering kali tidak memadai. Sastra tidak selalu ramah terhadap pembacaan yang tergesa, sebab ia lahir dari pengalaman hidup yang panjang, dari peristiwa-peristiwa batin yang berlapis, dan dari tradisi yang tidak seluruhnya dapat dipadatkan menjadi informasi singkat.

Sastra Nusantara tumbuh dalam kebudayaan yang memuliakan proses, bukan sekadar hasil. Ia hidup dalam tutur, dalam tembang, dalam kisah yang diulang dari generasi ke generasi, dan dalam teks-teks yang tidak jarang menuntut pembacaan perlahan serta perenungan yang sabar. Karena itu, ketika sastra semacam ini hadir dalam bentuk entri ensiklopedi, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya kelengkapan data, melainkan juga cara kita mendekatinya. Apakah entri dibaca sebagai simpulan yang menutup rasa ingin tahu, atau justru sebagai isyarat awal yang mengundang pembaca untuk melangkah lebih jauh?

Di titik inilah pertanyaan tentang membaca menjadi penting. Bukan semata apa yang kita baca, melainkan bagaimana kita membaca. Esai ini tidak dimaksudkan untuk mengoreksi kebiasaan membaca pembaca modern, apalagi menghakimi ritme zaman yang serba cepat. Ia hanya mengajak berhenti sejenak, menarik napas, dan menyadari bahwa membaca ensiklopedi sastra menuntut sikap yang sedikit berbeda: sikap yang tidak merasa segera selesai, tidak tergesa menguasai makna, dan bersedia membiarkan teks (betapapun ringkasnya) membuka jalan menuju perjumpaan yang lebih dalam dengan tradisi yang melahirkannya.

 

Entri sebagai Ambang, Bukan Ruang Tinggal

Entri ensiklopedi, pada hakikatnya, adalah sebuah ambang. Ia berada di batas antara ketidaktahuan dan pengetahuan awal, antara perjumpaan pertama dan pemahaman yang masih akan tumbuh. Sebagai ambang, ia tidak dimaksudkan untuk ditinggali terlalu lama, apalagi dijadikan rumah makna. Fungsinya lebih menyerupai pintu yang terbuka: memberi arah, menunjukkan kemungkinan jalan, lalu mempersilakan pembaca untuk melangkah masuk ke wilayah yang lebih luas dan lebih dalam.

Dalam konteks sastra, entri menyediakan orientasi awal yang penting. Ia mengenalkan nama, latar, bentuk karya, atau tradisi tertentu agar pembaca tidak masuk ke medan sastra tanpa penunjuk arah sama sekali. Orientasi semacam ini bernilai strategis, terutama bagi pembaca yang baru pertama kali bersentuhan dengan suatu tradisi sastra. Namun, orientasi bukanlah tujuan akhir. Ia hanya penanda awal agar pembaca tidak tersesat, bukan peta lengkap yang mengklaim telah mewakili seluruh lanskap makna.

Kesalahpahaman kerap muncul ketika entri diperlakukan sebagai simpulan. Ketika beberapa paragraf ringkas dianggap sudah cukup untuk “mengetahui” sastra tertentu, di situlah sastra berisiko direduksi menjadi sekadar informasi. Padahal, sastra (terutama sastra Nusantara) tidak pernah hidup sepenuhnya di dalam ringkasan. Ia berdenyut dalam bahasa yang diucapkan, dalam irama yang dinyanyikan, dalam simbol yang dibangun perlahan, dan dalam konteks hidup yang tidak selalu dapat diringkus oleh deskripsi singkat.

Membaca entri dengan kesadaran yang tepat seharusnya melahirkan kegelisahan yang produktif: rasa ingin tahu yang belum terpuaskan, dorongan halus untuk mencari teksnya, atau keinginan untuk mendengar kembali tradisi yang diringkas itu dalam bentuk aslinya. Entri yang dibaca dengan sikap demikian tidak menutup pemahaman, melainkan justru membukanya. Ia tidak melahirkan perasaan “sudah tahu”, tetapi “ingin tahu lebih jauh”.

Dengan menempatkan entri sebagai ambang, pembaca menjaga relasinya dengan sastra agar tetap hidup. Ia tidak berhenti di batas informasi, tetapi menjadikan batas itu sebagai awal perjalanan. Di sanalah ensiklopedi menemukan perannya yang paling bermakna: bukan sebagai ruang tinggal makna, melainkan sebagai penanda jalan menuju perjumpaan yang lebih utuh dengan sastra sebagai pengalaman kultural dan batin yang terus bergerak.

 

Risiko Pembacaan Informatif atas Sastra yang Reflektif

Sastra Nusantara lahir dari pengalaman hidup yang perlahan, berlapis, dan sering kali dijalani dalam kesabaran. Ia tumbuh dari ritme kehidupan yang tidak tergesa: dari musim yang berulang, dari laku hidup yang diwariskan, dari peristiwa-peristiwa batin yang tidak selalu mencari penjelasan segera. Dalam sastra semacam ini, makna tidak datang sekaligus. Ia menyingkapkan diri sedikit demi sedikit, seiring kedalaman perhatian pembacanya.

Sementara itu, pembaca hari ini hidup dalam dunia yang bergerak cepat. Informasi hadir silih berganti, menuntut respons segera, dan sering kali diukur dari seberapa ringkas serta seberapa cepat ia dapat dipahami. Pola semacam ini, disadari atau tidak, ikut memengaruhi cara kita membaca. Ensiklopedi, sebagai medium informasi, kerap dibaca dengan logika yang sama: cepat, praktis, dan selesai. Di sinilah ketegangan mulai muncul ketika sastra yang reflektif dipertemukan dengan cara baca yang informatif.

Logika informasi bekerja dengan prinsip kejelasan dan penutupan. Sesuatu dianggap tuntas ketika data telah diperoleh. Sebaliknya, logika sastra justru bekerja melalui keterbukaan. Ia tidak selalu memberi jawaban, melainkan mengajak pembaca tinggal lebih lama dalam pertanyaan. Sastra tidak menuntut pembaca untuk segera “mengerti”, tetapi untuk bersedia mengalami, mengulang, bahkan kadang tersesat sebelum menemukan makna yang dirasakan tepat bagi dirinya.

Risiko pembacaan informatif atas sastra bukan terletak pada kekeliruan data, melainkan pada terhentinya pengalaman. Ketika sastra dibaca semata-mata sebagai kumpulan informasi (tentang siapa, apa, dan kapan) dimensi reflektifnya perlahan memudar. Yang hilang bukan fakta, melainkan getaran batin yang seharusnya menyertai perjumpaan dengan teks sastra. Padahal, justru pada wilayah inilah sastra Nusantara menyimpan kekuatannya: pada kemampuannya mengolah pengalaman hidup menjadi hikmah yang tidak selalu dapat dirumuskan secara langsung.

Catatan ini bukan dimaksudkan sebagai kritik terhadap zaman atau terhadap cara baca modern. Setiap zaman memiliki kebutuhannya sendiri. Namun, sastra menuntut jenis perhatian yang berbeda dari sekadar konsumsi informasi. Ia meminta waktu, kesediaan untuk berhenti sejenak, dan keberanian untuk tidak segera menyimpulkan. Membaca sastra (termasuk melalui entri ensiklopedi) menjadi bermakna ketika pembaca sadar bahwa yang dihadapinya bukan hanya pengetahuan, tetapi juga undangan untuk merenung.

Dengan kesadaran semacam ini, ensiklopedi tidak lagi dibaca sekadar sebagai sumber informasi, melainkan sebagai pengingat bahwa di balik ringkasan-ringkasan itu terdapat dunia pengalaman yang luas. Dunia yang tidak bisa dipercepat tanpa kehilangan maknanya. Di sanalah pembaca diajak menyesuaikan langkah: memperlambat diri, membuka ruang batin, dan memberi kesempatan bagi sastra untuk berbicara dengan caranya sendiri.

 

Membaca Entri sebagai Latihan Kepekaan Budaya

Membaca entri ensiklopedi, jika diletakkan dalam kerangka sastra Nusantara, sesungguhnya bukan hanya kegiatan mencari data. Ia dapat menjadi latihan kepekaan budaya; sebuah laku batin yang mengajak pembaca untuk tidak berhenti pada informasi, tetapi membuka diri pada dunia nilai yang tersembunyi di baliknya. Pada titik ini, membaca tidak lagi bersifat netral, melainkan melibatkan sikap: apakah kita datang sekadar untuk mengetahui, atau untuk memahami.

Nama tokoh, bentuk karya, maupun penyebutan sebuah tradisi sastra dalam entri ensiklopedi sering tampak sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu tersimpan lapisan pengalaman hidup yang panjang. Sebuah nama bukan hanya penanda identitas, melainkan jejak perjalanan intelektual dan batin seseorang. Sebuah bentuk karya (apakah tembang, pantun, wawacan, atau cerita lisan) bukan sekadar kategori estetika, melainkan cara suatu komunitas membaca hidup, merawat ingatan, dan menegosiasikan hubungannya dengan alam serta Yang Transenden.

Pembaca yang peka akan menangkap bahwa satu entri bisa membuka banyak lapis makna. Ketika sebuah tradisi disebutkan, misalnya, yang hadir bukan hanya informasi tentang bentuk dan asal-usulnya, tetapi juga isyarat tentang etika hidup: bagaimana manusia diajari menempatkan diri, berbicara, mencintai, bahkan menerima kehilangan. Dalam sastra Nusantara, nilai-nilai semacam ini jarang disampaikan secara langsung. Ia hadir melalui simbol, irama, pengulangan, dan kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sinilah membaca menjadi laku, bukan sekadar aktivitas intelektual. Membaca entri dengan kesadaran semacam ini menuntut kesediaan untuk mendengar; mendengar suara yang mungkin tidak lantang, tetapi bertahan lama. Suara tradisi yang tidak tergesa menjelaskan dirinya, tetapi setia menunggu pembaca yang mau mendekat dengan kesabaran. Entri ensiklopedi, dalam pengertian ini, berfungsi seperti penanda jalan: ia menunjukkan arah, tetapi perjalanan tetap harus ditempuh oleh pembaca sendiri.

Contoh paling sederhana dapat kita rasakan ketika membaca entri tentang sastra lisan. Jika pembaca hanya berhenti pada definisi dan klasifikasi, maka sastra lisan akan tampak sebagai peninggalan masa lalu. Namun, jika dibaca dengan kepekaan budaya, sastra lisan justru menghadirkan pertanyaan-pertanyaan mendasar: mengapa sebuah masyarakat memilih mengingat melalui suara, mengapa hikmah disampaikan lewat cerita, dan mengapa pengulangan dianggap penting. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menandai bahwa pembacaan telah bergerak dari data menuju pemahaman.

Dengan demikian, membaca entri ensiklopedi dapat menjadi latihan yang halus tetapi mendalam. Ia melatih pembaca untuk tidak tergesa menyimpulkan, untuk memberi ruang pada konteks, dan untuk menghormati kompleksitas pengalaman budaya yang diringkas dalam beberapa paragraf. Dalam laku membaca semacam ini, ensiklopedi tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepekaan; kepekaan yang menjadi syarat penting agar sastra Nusantara tidak sekadar diketahui, melainkan benar-benar dipahami dan dihayati.

 

Dari Entri ke Teks: Mengaktifkan Perjalanan Membaca

Pada tahap tertentu, entri ensiklopedi seharusnya tidak lagi dibaca sebagai tujuan, melainkan sebagai pemicu. Ia memberi tanda awal, lalu dengan sadar melepaskan pembaca untuk melanjutkan perjalanan membaca secara lebih mandiri. Dalam konteks sastra Nusantara, perjalanan itu hampir selalu berarti bergerak dari ringkasan menuju teks, dari informasi menuju pengalaman, dari pengetahuan awal menuju keterlibatan yang lebih dalam.

Entri yang baik, ketika dibaca dengan sikap reflektif, akan menimbulkan rasa belum selesai. Ia menyalakan keingintahuan: bagaimana bunyi teksnya, bagaimana iramanya ketika dilafalkan, bagaimana kisah itu hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Dari sini, pembaca terdorong untuk mencari teks asli (jika ia berbentuk tulisan) atau mendengar kembali tradisinya (jika ia hidup dalam kelisanan). Pergerakan semacam ini penting, sebab sastra Nusantara jarang sepenuhnya hadir dalam bentuk ringkasan. Ia menuntut kehadiran pembaca yang bersedia meluangkan waktu dan perhatian.

Dalam pengalaman saya, banyak karya sastra justru baru “berbicara” ketika dibaca di luar kerangka informatif. Sebuah tembang, misalnya, tidak cukup dipahami melalui keterangan tentang bentuk dan fungsinya. Ia menuntut pendengaran yang sabar, kepekaan terhadap nada, dan kesediaan untuk merasakan suasana batin yang dibawanya. Demikian pula karya tulis: ringkasan tema tidak pernah mampu menggantikan pengalaman berjumpa langsung dengan bahasa, metafora, dan ritme yang menjadi jantung sastra itu sendiri.

Karena itu, ensiklopedi bekerja secara optimal justru ketika pembaca mengambil peran aktif. Entri tidak menghidupkan sastra sendirian. Ia hanya membuka pintu. Pembaca-lah yang menentukan apakah pintu itu dilewati atau dibiarkan tetap tertutup. Dalam pengertian ini, tanggung jawab pemaknaan tidak sepenuhnya berada di tangan penyusun ensiklopedi, tetapi juga di tangan mereka yang membacanya.

Nada ajakan di sini menjadi penting. Membaca lanjutan bukanlah kewajiban akademik yang memaksa, melainkan undangan kultural yang halus. Entri seolah berkata: “Di sini ada jejak, jika engkau ingin melangkah lebih jauh.” Ketika pembaca menanggapi ajakan itu (dengan mencari teksnya, membaca karya lain yang sejalur, atau mendengar tradisi yang masih hidup), sastra Nusantara mulai bergerak dari arsip menuju pengalaman.

Dengan cara demikian, ensiklopedi tidak berhenti sebagai buku rujukan, tetapi menjadi simpul awal dari jejaring pembacaan yang lebih luas. Ia menumbuhkan pembaca yang tidak merasa cukup dengan mengetahui, tetapi terdorong untuk mengalami. Di sanalah sastra menemukan kembali kehidupannya: bukan hanya tercatat, tetapi dijalani dalam proses membaca yang terus berlangsung, pelan, dan penuh kesadaran.

 

Penutup: Membaca sebagai Tanggung Jawab Kebudayaan

Pada akhirnya, sastra Nusantara tidak cukup hanya dicatat agar selamat dari lupa. Ia perlu dibaca dengan kesadaran yang pantas terhadap cara kelahirannya, terhadap ritme hidup yang membentuknya, dan terhadap hikmah yang ia simpan dengan sabar. Pencatatan adalah langkah awal yang penting, tetapi pembacaanlah yang menentukan apakah sastra itu benar-benar hadir dalam kehidupan kebudayaan kita atau sekadar menjadi nama di dalam indeks.

Ensiklopedi, dalam pengertian ini, telah menjalankan tugasnya dengan membuka pintu. Ia menyediakan ambang perjumpaan, memperkenalkan jejak-jejak sastra yang mungkin selama ini jauh dari jangkauan pembaca. Namun, setelah pintu itu terbuka, tanggung jawab berpindah secara halus kepada pembaca. Apakah ia akan berhenti di ambang, atau melangkah masuk dengan kerendahan hati, kesabaran, dan kesiapan untuk mendengarkan lebih dalam.

Membaca sastra (terlebih sastra Nusantara) bukanlah upaya untuk menguasai makna, apalagi menutupnya dalam simpulan yang final. Ia lebih menyerupai kesediaan untuk dituntun: dituntun oleh bahasa yang tidak selalu langsung, oleh simbol yang tumbuh dari pengalaman panjang, dan oleh tradisi yang berbicara pelan tetapi bertahan lama. Dalam proses itu, pembaca tidak berdiri sebagai pengendali makna, melainkan sebagai peziarah yang belajar memahami arah langkahnya sendiri.

Jika ensiklopedi ini kelak mendorong pembaca untuk membaca dengan lebih sabar, mendengar dengan lebih peka, dan mendekati sastra dengan rasa hormat yang wajar, maka ia telah melampaui fungsinya sebagai buku rujukan. Ia menjadi bagian dari laku kebudayaan: menumbuhkan kesadaran bahwa membaca adalah tanggung jawab, bukan sekadar keterampilan; sebuah sikap batin yang ikut menentukan bagaimana warisan sastra Nusantara akan terus hidup dan berbicara kepada zaman-zaman berikutnya.***

 

Tentang Penulis

[1] Penulis adalah penyair, Ketua Sekolah Kepenulisan Sastra Pedaban (SKSP) dan Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Buku esainya Sastra Pencerahan (Basabasi, 2019) menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 2021.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *